nama : dewi sat…

nama : dewi satika

kelas : 3pa01

npm : 15509128

 

tugas softskil

 

 

 

Pengaruh budaya terhadap pola asuh

 

 

 

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

Disusun Oleh :

3 PA 01

NO

NAMA

Mahasiswa

NPM

TUGAS

TANDA

TANGAN

1

Danu

 

Notulen & Observer

 

2

Dewi Sartika

 

Notulen & Observer

 

3

Fayrus Zhalielah

 

    Interviewer  &    

        Observer

 

4

Lia Kalista

 

Interviewer

& Observer

 

 

5

 

Riski Rahmasari

 

 

 

Notulen & Observer

 

 

             

 

Depok

2011

 

 

RUMUSAN MASALAH

 

Bagaimana gambaran pengaruh budaya yang dianut terhadap pola asuh dan factor factor apa saja yang mempengaruhi budaya terhadap pola asuh yang diterapkan.

 

 

LANDASAN TEORI

 

  1. A.    Pengaruh
  2. 1.      Pengertian Pengaruh

Pengertian Pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk  watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang (dalam widyatama, 2002,849)

Sedangkan menurut Badudu dan Zain , Pengaruh adalah (1) Daya yang menyebabkan sesuatu terjadi, (2) sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain dan (3) tunduk atau mengikuti karena kuasa atau kekuatan orang lain (dalam Widyatama,1994,1031)

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh merupakan suatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain.

 

  1. B.     Kebudayaan

1.      Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

  1. C.  Pola Asuh
    1. 1.  Pengertian Pola Asuh

Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu .pola. dan .asuh.. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, .pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap Sedangkan kata .asuh dapat berati menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu; melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga. ( dalam yusniyah ,Depdikbud,1988)

Lebih jelasnya, kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dukungan, dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya secara sehat.( dalam yusniyah, Elaine Danelson, 1990).  

Menurut Dr. Ahmad Tafsir seperti yang dikutip oleh Danny I. Yatim-Irwanto .Pola asuh berarti pendidikan, sedangkan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (dalam yusniyah, Danny I. Yatim-Irwanto, 1991)

Jadi pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.

 

  1. 2.       Macam-macam Pola Asuh Orang Tua

Dalam mengelompokkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda, yang antara satu sama lain hampir mempunyai persamaan. Di antaranya adalah sebagai berikut :

 

Dr. Paul Hauck menggolongkan pengelolaan anak ke dalam empat macam pola, yaitu :

1. Kasar dan tegas

Orang tua yang mengurus keluarganya menurut skema neurotik menentukan peraturan yang keras dan teguh yang tidak akan di ubah dan mereka membina suatu hubungan majikan-pembantu antara mereka sendiri dan anak-anak mereka.

2. Baik hati dan tidak tegas

Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja, yang lemah dan yang tergantung, dan yang bersifat kekanak-kanakan secara emosional.

3. Kasar dan tidak tegas

Inilah kombinasi yang menghancurkan kekasaran tersebut biasanya diperlihatkan dengan keyakinan bahwa anak dengan sengaja berprilaku buruk dan ia bisa memperbaikinya bila ia mempunyai kemauan untuk itu.

4. Baik hati dan tegas

Orang tua tidak ragu untuk membicarakan dengan anak-anak mereka tindakan yang mereka tidak setujui. Namun dalam melakukan ini, mereka membuat suatu batas hanya memusatkan selalu pada tindakan itu sendiri, tidak pernah si anak atau pribadinya.

 

Drs. H. Abu Ahmadi mengemukakan bahwa, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Research Institute, corak hubungan orang tua-anak dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu :

1. Pola menerima-menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua

terhadap anak.

2. Pola memiliki-melepaskan, pola ini didasarkan atas sikap protektif orang tua

terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali.

3. Pola demokrasi-otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisifasi anak dalam

menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak, sedangkan dalam pola demokrasi, sampai batas-batas tertentu, anak dapat berpartisifasi dalam keputusankeputusan keluarga.

 

Menurut Elizabet B. Hurlock ada beberapa sikap orang tua yang khas dalam mengasuh anaknya, antara lain :

1. Melindungi secara berlebihan

Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan.

2. Permisivitas

Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati dengan sedikit pengendalian.

3. Memanjakan

Permisivitas yang berlebih-memanjakan membuat anak egois, menuntut dan sering tiranik.

4. Penolakan

Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka.

5. Penerimaan

Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak, orang tua yang menerima, memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak.

6. Dominasi

Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat jujur, sopan dan berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh dan mudah dipengaruhi orang lain, mengalah dan sangat sensitif.

7. Tunduk pada anak

Orang tua yang tunduk pada anaknya membiarkan anak mendominasi mereka dan rumah mereka.

8. Favoritisme

Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata, kebanyakan orang tua mempunyai favorit. Hal ini membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya dari pada anak lain dalam keluarga.

9. Ambisi orang tua

Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka seringkali sangat tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik di tangga status sosial.

 

Danny I. Yatim-Irwanto mengemukakan beberapa pola asuh orang tua,

yaitu :

1. Pola asuh otoriter, pola ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku

dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi.

2. Pola asuh demokratik, pola ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara

orang tua dengan anaknya.

3. Pola asuh permisif, pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa

batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya.

4. Pola asuhan dengan ancaman, ancaman atau peringatan yang dengan keras

diberikan pada anak akan dirasa sebagai tantangan terhadap otonomi dan pribadinya. Ia akan melanggarnya untuk menunjukkan bahwa ia mempunyai harga diri.

5. Pola asuhan dengan hadiah, yang dimaksud disini adalah jika orang tua mempergunakan hadiah yang bersifat material atau suatu janji ketika menyuruh anak berprilaku seperti yang diinginkan.

 

Thomas Gordon mengemukakan metode pengelolaan anak, yaitu :

a. Pola asuh menang

b. Pola asuh mengalah

c. Pola asuh tidak menang dan tidak kalah.

 

Menurut Syamsu Yusuf terdapat 7 macam bentuk pola asuh yaitu :

a. Overprotection ( terlalu melindungi )

b. Permisivienes ( pembolehan )

c. Rejection ( penolakan )

d. Acceptance ( penerimaan )

e. Domination ( dominasi )

f. Submission ( penyerahan )

g. Over disipline ( terlalu disiplin )

 

Sedangkan Marcolm Hardy dan Steve Heyes mengemukakan empat macam pola asuh yang dilakukan orang tua dalam keluarga, yaitu :

a. Autokratis (otoriter)

Ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua dan kebebasan anak sangat di batasi.

b. Demokratis

Ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak.

c. Permisif

Ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri.

d. Laissez faire.

Ditandai dengan sikap acuh tak acuh orang tua terhadap anaknya.

 

Dari berbagai macam pola asuh yang dikemukakan di atas, penulis hanya akan mengemukakan tiga macam saja, yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan laissez faire. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar pembahasan menjadi lebih terfokus dan jelas. Oleh karena, jika dilihat dari berbagai macam bentuk pola asuh di atas pada intinya hampir sama. Misalnya saja antara pola asuh autokratis, over protection, over discipline. Dominasi, favoritisme, ambisi orang tua dan otoriter, semuanya menekankan pada sikap kekuasaan, kedisiplinan dan kepatuhan yang berlebihan. Demikian pula halnya dengan pola asuh laissez faire, rejection, submission, permisiveness, memanjakan. Secara implisit, kesemuanya itu memperlihatkan suatu sikap yang kurang berwibawa, bebas, acuh tak acuh. Adapun acceptance (penerimaan) bisa termasuk bagian dari pola asuh demokratis. Oleh karena itulah, maka penulis hanya akan membahas tiga macam pola asuh, yang secara teoritis lebih dikenal bila dibandingkan dengan yang lainnya. Yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan laissez faire.

 

1. Otoriter

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, otoriter .berarti berkuasa sendiri dan sewenang-wenang. Menurut Singgih D. Gunarsa dan Ny.Y. Singgih D. Gunarsa, pola asuh otoriter adalah suatu bentuk pola asuh yang menuntut anak agar patuh dan tunduk terhadap semua perintah dan aturan yang dibuat oleh orang tua tanpa ada kebebasan untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya sendiri.

Jadi pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak. Serta orang tualah yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanyalah sebagai objek pelaksana saja. Jika anak-anaknya menentang atau membantah, maka ia tak segan-segan memberikan hukuman. Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangatlah dibatasi. Apa saja yang dilakukan anak harus sesuai dengan keinginan orang tua.

Pada pola asuhan ini akan terjadi komunikasi satu arah. Orang tualah yang memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan dan keinginan anak. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua. Karena menurutnya tanpa sikap keras tersebut anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Jadi anak melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakannya itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak.

Penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua terhadap anak, dapat mempengaruhi proses pendidikan anak terutama dalam pembentukan kepribadiannya. Karena disiplin yang dinilai efektif oleh orang tua (sepihak), belum tentu serasi dengan perkembangan anak. Prof. Dr. Utami Munandar mengemukakan bahwa, .sikap orang tua yang otoriter paling tidak menunjang perkembangan kemandirian dan tanggung jawab sosial. Anak menjadi patuh, sopan, rajin mengerjakan pekerjaan sekolah, tetapi kurang bebas dan kurang percaya diri Disini perkembangan anak itu semata-mata ditentukan oleh orang tuanya. Sifat pribadi anak yang otoriter biasanya suka menyendiri, mengalami kemunduran kematangannya, ragu-ragu di dalam semua tindakan, serta lambat berinisiatif. Anak yang dibesarkan di rumah yang bernuansa otoriter akan mengalami perkembangan yang tidak diharapkan orang tua. Anak akan menjadi kurang kreatif jika orang tua selalu melarang segala tindakan anak yang sedikit menyimpang dari yang seharusnya dilakukan. Larangan dan hukuman orang tua akan menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang, anak tidak akan berani mencoba, dan ia tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak dapat kesempatan untuk mencoba. Anak juga akan takut untuk mengemukakan pendapatnya, ia merasa tidak dapat mengimbangi temantemannya dalam segala hal, sehingga anak menjadi pasif dalam pergaulan. Lamalama ia akan mempunyai perasaan rendah diri dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.

Karena kepercayaan terhadap diri sendiri tidak ada, maka setelah dewasapun masih akan terus mencari bantuan, perlindungan dan pengamanan. Ini berarti anak tidak berani memikul tanggung jawab.

Adapun ciri-ciri dari pola asuh otoriter adalah sebagai berikut :

1) Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah.

2) Orang tua cenderung mencari kesalahan-kesalahan anak dan kemudian menghukumnya.

3) Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak.

4) Jika terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, maka anak dianggap pembangkang.

5) Orang tua cenderung memaksakan disiplin.

6) Orang tua cenderung memaksakan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya sebagai pelaksana.

7) Tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak.

 

2. Demokratis

Menurut Prof. Dr. Utami Munandar, .Pola asuh demokratis adalah cara mendidik anak, di mana orang tua menentukan peraturan-peraturan tetapi dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak.

Pola asuh demokratis adalah suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak. Dengan kata lain, pola asuh demokratis ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua.

Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis adalah sebagai berikut :

1) Menentukan peraturan dan disiplin dengan memperhatikan dan mempertimbangkan alasan-alasan yang dapat diterima, dipahami dan dimengerti oleh anak

2) Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik agar di tinggalkan

3) Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian

4) Dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga

5) Dapat menciptakan suasana komunikatif antara orang tua dan anak serta sesama keluarga

Dari berbagai macam pola asuh yang banyak dikenal, pola asuh demokratis mempunyai dampak positif yang lebih besar dibandingkan dengan pola asuh otoriter maupun laissez faire. Dengan pola asuh demokratis anak akan menjadi orang yang mau menerima kritik dari orang lain, mampu menghargai orang lain, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya. Tidak ada orang tua yang menerapkan salah satu macam pola asuh dengan murni, dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua menerapkan berbagai macam pola asuh dengan memiliki kecenderungan kepada salah satu macam pola.

 

3. Laissez Faire

Kata laissez faire berasal dari Bahasa Perancis yang berarti membiarkan (leave alone). Dalam istilah pendidikan, laissez faire adalah suatu sistim di mana si pendidik menganut kebijaksanaan non intereference (tidak turut campur).Pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah member aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan orang tua. Anak tidak tahu apakah prilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan ataupun menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berprilaku sesuai dengan keinginanya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak.28 Pada pola asuh ini anak dipandang sebagai makhluk hidup yang berpribadi bebas. Anak adalah subjek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Orang tua membiarkan anaknya mencari dan menentukan sendiri apa yang diinginkannya. Kebebasan sepenuhnya diberikan kepada anak. Orang tua seperti ini cenderung kurang perhatian dan acuh tak acuh terhadap anaknya. Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja, lemah, tergantung dan bersifat kekanak-kanakan secara emosional. Seorang anak yang belum pernah diajar untuk mentoleransi frustasi, karena ia diperlakukan terlalu baik oleh orang tuanya, akan menemukan banyak masalah ketika dewasa. Dalam perkawinan dan pekerjaan, anak-anak yang manja tersebut mengharapkan orang lain untuk membuat penyesuaian terhadap tingkah laku mereka. Ketika mereka kecewa mereka menjadi gusar, penuh kebencian, dan bahkan marah-marah. Pandangan orang lain jarang sekali dipertimbangkan. Hanya pandangan mereka yang berguna. Kesukaran-kesukaran yang terpendam antara pandangan suami istri atau kawan sekerja terlihat nyata.

Adapun yang termasuk pola asuh laissez faire adalah sebagai berikut :

1) Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya.

2) Mendidik anak acuh tak acuh, bersikap pasif dan masa bodoh.

3) Mengutanakan kebutuhan material saja.

4) Membiarkan saja apa yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua).

5) Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga.

Setiap tipe pengasuhan pasti memiliki resiko masing-masing. Tipe otoriter memang memudahkan orang tua, karena tidak perlu bersusah payah untuk bertanggung jawab dengan anak. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini mungkin memang tidak memiliki masalah dengan pelajaran dan juga bebas dari masalah kenakalan remaja. Akan tetapi cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri, kurang kreatif, kurang dapat bergaul dengan lingkungan sosialnya, ketergantungan kepada orang lain, serta memiliki defresi yang lebih tinggi. Sementara pola asuh laissez faire, membuat anak merasa boleh berbuat sekehendak hatinya. Anak memang akan memiliki rasa percaya yang lebih besar, kemampuan sosial baik, dan tingkat depresi lebih rendah. Tapi juga akan lebih mungkin terlibat dalam kenakalan remaja dan memiliki prestasi yang rendah di sekolah. Anak tidak mengetahuyi norma-norma sosial yang harus dipatuhinya. Anak membutuhkan dukungan dan perhatian dari keluarga dalam menciptakan karyanya. Karena itu, pola asuh yang dianggap lebih cocok untuk membantu anak mengembangkan kreativitasnya adalah otoratif atau biasa lebih dikenal dengan demokratis. Dalam pola asuh ini, orang tua memberi control terhadap anaknya dalam batas-batas tertentu, aturan untuk hal-hal yang esensial saja, dengan tetap menunjukkan dukungan, cinta dan kehangatan kepada anaknya. Melalui pola asuh ini anak juga dapat merasa bebas mengungkapkan kesulitannya, kegelisahannya kepada orang tua karena ia tahu, orang tua akan membantunya mencari jalan keluar tanpa berusaha mendiktenya.

 

 

  1. 3.      Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh

Hurlock (1993) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh, yaitu:

a. Pendidikan orang tua

Orang tua yang mendapat pendidikan yang baik, cenderung menetapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif dibandingkan dengan orang tua yang pendidikannya terbatas. Pendidikan membantu orang tua untuk lebih memahami kebutuhan anak.

b. Kelas Sosial

Orang tua dari kelas sosial menengah cenderung lebih permisif dibanding dengan orang tua dari kelas sosial bawah.

c. Konsep tentang peran orang tua

Tiap orang tua memiliki konsep yang berbeda-beda tentang bagaimana seharusnya orang tua berperan. Orang tua dengan konsep tradisional cenderung memilih pola asuh yang ketat dibanding orang tua dengan konsep nontradisional.

d. Kepribadian orang tua

Pemilihan pola asuh dipengaruhi oleh kepribadian orang tua. Orang tua yang berkepribadian tertutup dan konservatif cenderung akan memperlakukan anak dengan ketat dan otoriter.

e. Kepribadian Anak

Tidak hanya kepribadian orang tua saja yang mempengaruhi pemilihan pola asuh, tetapi juga kepribadian anak. Anak yang ekstrovert akan bersifat lebih terbuka terhadap rangsangan-rangsangan yang datang pada dirinya dibandingkan dengan anak yang introvert.

f. Usia anak

Tingkah laku dan sikap orang tua dipengaruhi oleh anak. Orang tua yang memberikan dukungan dan dapat menerima sikap tergantung anak usia pra sekolah dari pada anak.

  1. 4.      Dimensi Pola Asuh Orang Tua

Baumrind (1994) mengemukakan 4 dimensi pola asuh yaitu:

a. Kendali Orang Tua (Control): tingkah menunjukan pada upaya orang tua dalam menerapkan kedisiplinan pada anak sesuai dengan patokan laku yang sudah dibuat sebelumnya

b. Kejelasan Komunikasi Orang Tua-anak (Clarity Of Parent Child Communication): menunjuk kesadaran orang tua untuk mendengarkan atau menampung pendapat, keinginan atau keluhan anak, dan juga kesadaran orang tua dalam memberikan hukuman kepada anak bila diperlukan

            c. Tuntutan Kedewasaan (Maturity Demands): menunjuk pada dukungan prestasi, social, dan emosi orang tua terhadap anak.

                        d. Kasih Sayang (Nurturance): menunjuk pada kehangatan dan keterlibatan orang tua dalam memperlihatkan kesejahteraan dan kebahagiaan anak

 

PEDOMAN WAWANCARA

 

I.      Subjek

1.      Identitas Subjek

Nama (Inisial)    : M. R

Jenis Kelamin     : Laki Laki

Usia                    : 35 th

Pekerjaan            : PNS

Pendidikan         : Sarjana

Alamat               : Depok

2.      Latar Belakang Subjek

1.         

 

3.      Daftar Pertanyaan

1.      Dimensi

a.      (indikator dari dimensi pada teori )

1)      Apa….?

2)      Mengapa…..?

3)      Bagaimana…..?

b.      (Indikator selanjutnya dari teori)

4) Apa….?

5) Mengapa….?

6) Bagaimana….?

c.       (Indikator selanjutnya)

7) Apa….?

8) Mengapa…?

9) Bagaimana ….?

dan seterusnya……..

2.      Faktor  Pola Asuh

A.    Pendidikan orang tua

B.      Kelas Sosial

C.    Konsep tentang peran orang tua

D.    Kepribadian Orang tua

E.     Kepribadian Anak

F.     Usia Anak

 

 

Pedoman Wawancara Significant Other

A.    Identitas Significant Other

Nama (Inisial)    : SP

Jenis Kelamin     : Perempuan

Usia                    : 41th

Pekerjaan            : Pembantu rumah tangga

Pendidikan         : SMP

Alamat               : Depok

B.     Daftar Pertanyaan

 

 

PELAKSANAAN WAWANCARA

 

a.       Setting Fisik

 

b.      Setting Psikis

c.       Tahap Pelaksanaan

 

HASIL WAWANCARA (VERBATIM)

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. http://dspace.widyatama.ac.id/jspui/bitstream/10364/507/4/bab2.pdf
  2. Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta : Bulan Bintang, 1996
  3. Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988)
  4. TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988)
  5. Elaine Donelson, Asih, Asah, Asuh Keutamaan Wanita, (Yogyakarta : Kanisius, 1990)
  6.  Danny I. Yatim-Irwanto, Kepribadian Keluarga Narkotika, (Jakarta : Arcan, 1991)
  7. Paul Hauck, Psikologi Populer, (Mendidik Anak dengan Berhasil), (Jakarta : Arcan,1993)
  8.  Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT Rieneka Cipta, 1991)
  9. Singgih D. Gunarsa dan Ny.Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta : PT. BPK. Gunung Mulia, 1995)
  10. Parsono, Materi Pokok Landasan Kependidikan, (Jakarta : Universitas terbuka, 1994)
  11. Utami Munandar, Hubungan Isteri, Suami dan Anak dalam Keluarga, (Jakarta : Pustaka

Antara, 1992)

  1. Mohammad Shochib, Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Disiplin diri, (Jakarta : PT Rieneka Cipta, 1998),
  2. Soegarda Poebakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta : Gunung Agung, 1976)
  3. http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2008/Artikel_10500364.pdf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Laporan  saya

Saya bertugas sebagai notulen dan observer pada kelompok ini. Tugas yang dibuat berdasarkan pola asuh masyarakat indonesia terhadap anak, yang didalam nya terdapat berbagai jenis pola asuh, dari berbagai tokoh. Tugas yang kami buat ini telah sampai pada proses pembuatan pertanyaan atas pedoman wawancara yang akan kami ajukan natinya pada objek wawancara. Begitulah laporan yang telah saya berikan kurang lebih mahon maaf.

 

Kesulitan dalam membuat makalah ini

Kesulitan saya dalam mebuat dan menyusun pertanyan menjadi sesuatu pertanyaan yang tidak melenceng dari tema rupanya membuat saya kewalahan. Dikarenakan aspek-aspek yang natinya akan dimasukan kedalam pedoman wawancara akan banyak. Dan tampaknya rumit. Itu adalah kesulitan dari saya pribadi selaku yang bertugas sebagai notulen dan observer.

 


 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: