tugas softskil psikologi internet dan teknologi (motivasi)

 

Pengaruh motivasi belajar pada anak tentang pelajaran matematika (pitagoras)

 

ABSTRAK
Anak memerlukan metode belajar yang menunjang kemampuan berpikir abstrak, karena pada umumnya anak hanya dapat berpikir secara konkret. Sementara itu, matematika mempelajari benda-benda abstrak yang disusun menggunakan simbol (lambang) deduktif, sehingga sering ada kesan bahwa matematika sulit dan membosankan. Metode pembelajaran yang digunakan oleh pendidik cenderung belum mengaktifkan anak, didominasi metode ceramah yang sangat abstrak. Sementara metode yang diterapkan belum mampu meningkatkan minat dan gairah belajar. Oleh karena itu, penelitian terhadap motivasi dan metode belajar anak sekolah dasar untuk memecahkan masalah kesulitan memahami matematika dilakukan dengan metode inquiri, sehingga tidak dapat membantu anak dalam mengaplikasikan konsep atau teori ke dalam kehidupan nyata. Berdasarkan penelitian analisis data, disimpulkan bahwa metode inquiri ternyata dapat meningkatkan kemampuan berpikir abstrak anak dalam memecahkan permasalahan konsep matematika dapat menimbulkan motivasi serta mengaktifkan anak dalam pembelajaran teori phytagoras.
Kata Kunci: Pembelajaran Matematika, Aplikasi Konsep Matematika Metode Inquiri, Teorema Phytagoras

PENDAHULUAN

Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama dijenjang pendidikan dasar. Dalam hal ini siswa dituntut untuk mengkontruksi pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya sehingga bermakna bagi dirinya. Sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Piaget (dalam Ruseffendi, 2006:133) bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran anak melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru ke dalam pikiran, sedangkan akomodasi adalah penyusunan kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru. Artinya, siswa seharusnya membangun pemahaman sendiri tentang konsep atau struktur dari materi yang dipelajarinya, tidak diberitahukan langsung oleh guru.
Matematika adalah bidang studi yang istimewa, menurut Hudoyo (1990:3) keistimewaan itu terletak pada kaitan matematika dengan ide (gagasan-gagasan), aturan-aturan, hubungan-hubungan yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Akan tetapi, keistimewaan matematika sering tidak terlihat karena pembelajarannya yang terkesan monoton dengan hanya hadirnya rumus-rumus yang begitu banyak jumlahnya, padahal rumus hanyalah konsekuensi penyederhanaan dari konsep matematika. Menurut Sutawijaya (1997:177), memahami konsep saja tidak cukup, karena dalam praktek kehidupan sehari-hari siswa memerlukan keterampilan matematika. Akibatnya, esensi matematika sebagai mata pelajaran yang seharusnya dapat mengajak siswa berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama menjadi hilang. Hal ini terlihat dari nilai pembelajaran bidang studi matematika yang relatif rendah dibandingkan dengan nilai yang didapat dari bidang studi yang lain.
Pembelajaran matematika dimaksudkan sebagai proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan (kelas/sekolah) yang memungkinkan kegiatan siswa belajar matematika sekolah. Adapun tujuan pembelajaran matematika secara umum untuk menampakan kemampuan berpikir matematis dalam diri siswa sebagai alat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.
Penelitian ini menitik beratkan kepada permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi oleh anak terhadap teorema phytagoras karena selama ini terdapat beberapa permasalahan dalam pengajaran teorema phytagoras. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, bahwa ada beberapa letak kesulitan anak dalam memahami konsep teorema phytagoras, antara lain (1) anak kesulitan menemukan asalnya rumus yang telah diberikan pendidik, (2) anak kurang memahami penggunaan teorema phytagoras karena selama ini mereka hanya menghafal saja, (3) anak kurang memahami kegunaan teorema phytagoras dalam kehidupan sehari-hari.
Bertolak dari penyebab kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep teorema phytagoras, maka dengan menggunakan metode inquiry ini diharapkan pendidik dapat menggunakan dan mengoptimalkan pengalaman kehidupan sehari-hari anak untuk menembangkan kemampuan anak dalam bernalar matematika. Pembelajran semacam ini lebih bermakna karena pendidik mengkaitkannya dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh anak.
Metode inquiry pada dasarnya adalah metode yang menuntut anak menyadari apa yang telah dialami, sehingga anak aktif berpikir dan terlibat dalam kegiatan intelektual. Melalui metode ini anak dapat memproses pengalaman belajar melalui sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, melalui metode inquiry anak terbiasa untuk berpikir logis, sistematis, analistis, dan kritis.
Oleh karena itu perlu juga diketahui bagaimana respon siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan metode inquiri pada materi teorema phytagoras di sekolah dasar untuk menggali serta menemukan strategi pembelajaran yang sesuai sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa sekolah dasar pada materi tersebut.

TUJUAN

Secara umum penelitian ini dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang dialami anak sekolah dasar berkaitan dengan teorema phytagoras. Setelah diadakan penelitian dengan metode inquiri ini diharapkan anak mampu:
1. Memahami konsep teorema phytagoras, menjelaskan konsep teorema phytagoras, dan mengaplikasikan konsep tersebut secara akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran dalam memecahkan permasalahan matematika berkaitan dengan teorema phytagoras, melakukan manipulasi dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah teorema phytagoras, meliputi kemampuan masalah, merancang model matematika berkaitan dengan teorema phytagoras, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, gambar, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan teorema phytagoras dalam kehidupan, artinya memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari teorema phytagoras pada khususnya dan matematika pada umumnya, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

METODE

Metode merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan. Saat pembelajaran berlangsung, tidak dapat dikatakan bahwa suatu metode lebih baik daripada metode yang lain, tetapi pemilihan metode tersebut hendaklah sesuai dengan tujuan pembelajaran dari suatu bidang studi dan pokok bahasan serta memberikan kesempatan belajar aktif pada anak.
Melalui pendidikan matematika, siswa harus dilatih menghadapi masalah yang menyangkut kehidupan di masyarakat agar kemampuan intelektual dan keterampilannya dapat berkembang. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode inquiri sebagai penunjang kemampuan intelektual dan keterampilan anak dalam menghadapi permasalahan di kehidupan sehari-hari berkaitan dengan matematika. Metode inquiry ialah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa guru. Metode ini melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental dalam rangka penemuannya, sehingga memungkinkan peserta didik menemukan sendiri informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.
Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu: (a) Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik. (b) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. (c) mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka. (d) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri. (e) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. (f) Situasi pembelajaran lebih menggairahkan. (g) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu. (h) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. (i) Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional. (j) Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Berdasarkan definisi dan keunggulan dari metode inquiri tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode ini mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Penyatuan dengan masalah atau soal yang biasanya bersifat open ended (penjelasan diakhir) yang mengijinkan respon, jawaban dan atau solusi yang bervariasi.
2. Siswa melakukan penyelidikan dengan menggunakan metode tertentu.
3. Inquiry membutuhkan siswa untuk mendatangkan pengetahuan yang sudah ada dan mengidentifikasi pengetahuan mana yang akan mereka gunakan.
4. Tugas diusahakan untuk menstimulasi keingintahuan siswa, memberi semangat mereka untuk secara aktif mengeksplorasi dan menemukan bukti baru.
5. Tanggungjawab berada pada siswa untuk menganalisis hasil mereka dengan cara yang benar dan dalam hal dukungan terhadap responsi masalah mereka.
Penerapan dari metode inquiri ini dalam pembelajaran teorema phytagoras dilakukan di dalam dan di luar kelas dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menilai kebutuhan dan minat siswa terhadap pembelajaran teorema phytagoras dan menggunakan sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realistis untuk pembelajaran dengan penemuan.
b. Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajari.
c. Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan.
d. Bercakap-cakap dengan siswa untuk membantu menjelaskan peranan.
e. Menyiapkan situasi yang mengandung masalah yang minta dipecahkan.
f. Mengecek pengertian siswa tentang masalah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan.
g. Menambah berbagai alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan.
h. Memeberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan data dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai masalah penerapan prinsip teorema phytagoras dalam pembuatan layang-layang yang diamati dan dicatatnya.
i. Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri, sehinga memperoleh tilikan umum.
j. Memberi kesempatan kepada siswa untuk melanjutkan pengalaman belajarnya walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri.
k. Memberi jawaban dengan tepat dan cepat dengan data informasi bila ditanya dan kalau ternyata dibutuhkan siswa kelangsungan kegiatannya.
l. Memimpin analisisnya anak setelah eksplorasi melalui percakapan dan eksplorasinya anak dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses.
m. Pembelajaran keterampilan belajar, misalnya latihan penyelidikan terhadap fenomena dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan teorema phytagoras.
n. Merangsang interaksi siswa dengan siswa lain misalnya: merundingkan strategi penemuan, diskusi, hipotesis, dan data yang terkumpul.
o. Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi, misalnya menanyakan asal usul dari pernyataan anak, maupun pertanyaan ingatan, misalnya pertanyaan yang berkaitan antara hipotesis anak dengan konsep dasar teorema phytagoras.
p. Bersikap membantu jawaban anak, ide anak, pandangan, dan tafsirannya yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu membuat kesimpulan yang benar.
q. Membantu menyimpulkan atau memperjelas pernyataan anak untuk memperkuat pertanyaan dengan alasan dan fakta.
r. Memuji anak yang sedang giat dalam proses penemuan, misalnya seorang anak yang bertanya kepada temuannya atau kepada guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan anak yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri dengan kata-kata misalnya “saya mengenal teori tentang ……..”.
s. Membantu anak menulis atau merumuskan prinsip, aturan, ide, generalisasi, atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula yang ditemukan melalui strategi penemuan.
t. Mengecek apakah anak menggunakan apa yang telah diketemukannya, misalnya pengertian atau teori atau teknik dalam situasi berikutnya, misalnya situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya.

Strategi pelaksanaan inquiry adalah: (1) Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. (2) Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang dialami siswa. (3) Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik. (4) Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya. (5) Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan (Mulyasa, 2005:236).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini didesain dengan mendorong agar anak mencari pengetahuan baru perdasarkan apa yang anak temukan dan yang dialami oleh anak, kemudian dilakukan penilaian terhadap anak. Penilaian dibagi dalam tiga jenis, pre-test dan post-test yang berupa soal-soal essay, diskusi, dan angket yang berupan check-list¬. Pre-test dan post-test serta diskusi bertujuan untuk menilai kemampuan kognitif dari anak, sementara angket untuk mengetahui respon anak terhadap pembelajaran yang dilakukan. Penilaian terhadap aspek psikomotor dan afektif dilakukan saat anak mengikuti proses pembelajaran, yaitu dengan melihat keterampilan anak dalam menemukan pengetahuan baru dan sikap anak selama pembelajaran berlangsung.
Sebelum melakukan analisis data hasil dari penerapan metode inquiri dan tumbuhnya motivasi belajar anak terhadap teorema phytagoras, akan dilakukan uji perbedaan kemampuan awal anak dalam menguasai konsep teorema phytagoras. Kemampuan awal anak tersebut diukur dengan cara melakukan tes terhadap anak berdasarkan apa yang telah mereka pelajari di kelas sebelum diterapkannya metode inquiri, berupa pre-test.
Pre-tes akan berlanjut pada penerapan metode inquiri, dimana anak dapat memperoleh pengetahuan baru dan membuat generalisasi (pernyataan umum) terhadap teorema phytagoras. Generalisasi tersebut akan diperoleh anak melalui uraian singkat dari guru, membaca referensi yang dimiliki anak, dan berdasarkan hasil temuan anak saat proses pembelajaran berlangsung.
Agar data penelitian yang dilakukan valid, maka dilakukan post-test pada akhir pembelajaran. Post-test bertujuan untuk mengetahui bagaimana respon anak terhadap pembelajaran teorema phytagoras jika dikemas dengan metode inquiri dan membuat anak tidak hanya menghafal konsep dari teorema phytagoras saja melainkan memberi kesan kepada anak akan pembelajaran teorema phytagoras. Dengan demikian, konsep teorema phytagoras dapat diingat oleh anak dalam jangak panjang.
Apabila data telah selesai dikumpulkan, baik itu data pre-test maupun data pos-test, akan dilakukan pembandingan hasil data yang berupa nilai pre-test dan post-test dari anak. Berikut merupakan hasil penilaian yang dilakukan terhadap anak selama penelitian berlangsung.
Tabel i. Daftar persentase nilai pre-test dan post-test anak
Keterangan Nilai
Pre-test Post-test
Nilai rata-rata kelas 44,80 72,00
Jumlah siswa 25 anak 25 anak
Anak dengan nilai < 65 21 anak 6 anak
Anak dengan nilai ≥ 65 4 anak 19 anak
Persentase ketuntasan 24% 76%
Ketuntasan kelas Belum tuntas Tuntas
Berdasarkan data dari table 1 dapat diketahui bahwa metode inquiri dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak dari nilai raa-rata kelas 44,80 menjadi 72,00 atau mengalami peningkatan sebesar 46,3% dengan membandingkan nilai pre-test dan post-test. Dimana pada saat post-test (metode inquiri telah diterapkan) hanya ada enam anak dari duapuluh lima anak yang mendapat nilai di bawah 65, yang sebelumnya (pre-test) anak yang memperoleh nilai lebih dari 65 atau sama dengan 65 sebanyak empat anak.
Diskusi dan pengamatan dilakukan untuk mengetahui penyebab kesulitan anak dalam pembelajaran teorema phytagoras dan pembelajaran matematika secara umum. Dari hasil analisis hasil diskusi pernyataan anak mengenai konsep teorema phytagoras yang anak dapatkan dari pengamatan, secara keseluruhan diperoleh penyebab kurang tertariknya anak terhadap pembelajaran matematika termasuk pembelajaran teorema phytagoras, diantaranya sebagai berikut:
1. Mayoritas pembelajaran matematika dilakukan oelh pendidik dengan metode ceramah dan anak hanya diberikan rumus dan konsep kemudian menghafalkannya, sehingga anak merasa bosan dengan pembelajaran matematika dan mengganggap matematika sulit.
2. Dengan metode ceramah yang diterapkan oleh pendidik tentunya membuat anak sulit berpikir matematis, karena pada dasarnya matematika memuat ilmu yang memerlukan logika dan penalaran berpikir abstrak. Sementara itu anak masih kesulitan dalam berpikir abstrak, sehingga konsep dan rumus matematika terasa sulit untuk dipelajari.
3. Pembelajaran matematika termasuk teorema phytagoras sering kali dilakukan oleh pendidik tanpa menghadirkan media pembelajaran, seperti benda berbentuk segitiga atau gambar segitiga, sehingga anak sulit untuk menggambarkan bagaimana aplikasi rumus terhadap benda-benda yang berkaitan dengan rumus tersebut.
4. Anak cenderung menghafal rumus sehingga anak terpaku dalam rumus, artinya jika tidak hafal dengan rumus matematika maka anak tidak dapat memecahkan permasalahan matematika tersebut.
5. Sulitnya siswa mengaplikasikan rumus dan konsep matematika termasuk teorema phytagoras ke dalam soal cerita sehingga anak cenderung mengganggap matematika ilmu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Selain pre-test dan pos-test serta diskusi, masih ada angket yang diberikan kepada responden (anak kelas lima SD) dengan tujuan untuk mengetahui respon anak terhadap penerapan metode inquiri dan dampak dari metode inquiri terhadap motivasi belajar anak. Hasil persentase dari angket yang diisi anak dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel ii. Persentase respon anak terhadap pembelajaran dengan metode inquiri
No. Pernyataan Persentase
SS S TS STS
1. Siswa belum pernah menerima penerapan cara mengajar seperti ini sebelumnya 73% 24% 3% 0%
2. Siswa menyukai cara pengajaran yang diberikan 31% 60% 9% 0%
3. Siswa menjadi lebih menyenangi pelajaran yang disampaikan 46% 40% 14% 0%
4. Siswa merasa lebih mudah memahami materi yang disampaikan 28% 61% 11% 0%
5. Siswa merasa lebih memahami materi yang disampaikan 22% 67% 11% 0%
6. Siswa merasa terbantu oleh pengajar dalam memahami materi 17% 69% 14% 0%
7. Siswa merasa lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat 6% 47% 42% 6%
8. Siswa merasa lebih suka bertanya kepada teman daripada bertanya pada pengajar 19% 39% 39% 3%
9. Siswa menjadi termotivasi untuk belajar lebih lanjut 27% 59% 14% 0%
10. Siswa merasa tidak perduli dengan pelajaran yang disampaikan 3% 0% 69% 28%
11. Siswa merasa tidak perduli dengan pelajaran matematika 0% 3% 58% 39%
Berdasarkan data table 2 dapat diketahui bahwa umumnya anak kelas lima sekolah dasar bersikap positif terhadap penggunaan metode pembelajaran inquiri untuk materi teorema phytagoras dan metode tersebut dapat memberikan sekaligus meningkatkan motivasi belajar anak. Mayoritas anak kelas lima sekolah dasar menyatakan belum pernah menerima penerapan cara mengajar dengan metode ini sebelumnya. Sebanyak 91 % menyatakan bahwa mereka menyukai cara pengajaran yang diberikan selama penelitian berlangsung. 86% anak menyatakan bahwa mereka lebih menyenangi pelejaran yang disampaikan, 89% menyatakan lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan, 86% merasa terbantu oleh pengajar, 53% merasa lebih berani untuk bertanya, 58% lebih suka bertanya kepada temannya daripada dengan pengajar, 86% menyatakan menjadi termotivasi untuk belajar lebih lanjut, dan hanya 3 % yang menyatakan tidak peduli dengan materi teorema phytagoras.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh selama penelitian ini berlangsung diantaranya sebagai berikut:
1. Faktor penyebab kesulitan anak belajar matematika ialah: (a) Pendidik selalu menerapkan metode ceramah dalam mengajar, sehingga anak cepat merasa bosan ketika proses pembelajaran berlangsung, (b) Sulitnya anak untuk berpikir abstrak sementara konsep dan rumus matematika membutuhkan penalaran dan analisis, tetapi anak hanya diberikan teori dan rumus tanpa ada penjelasan yang sesuai dengan kebutuhan anak, (c) Anak merasa sulit mengaplikasikan rumus dan konsep matematika dalam soal cerita dan kehidupan sehari-hari, dan (d) Kurangnya kesadaran anak dalam mengkaitkan antara matematika dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga matematika dianggap tidak terlalu penting.
2. Pembelajaran matematika khusus untuk anak SD seharusnya dikemas dengan metode yang menarik dan didampingi dengan media yang mendukung proses pembelajaran, sehingga anak akan senang dan terus termotivasi untuk belajar matematika.
3. Respon siswa pada umumnya positif terhadap penerapan pembelajaran dengan metode inquiri, karena dengan metode ini anak merasa terbantu dalam memahami rumus dan konsep matematika termasuk teorema phytagoras dan mengingatnya dalam jangka panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: