Archive for January, 2011

KEADAAN KOGNITF PADA ANAK( SOFTSKILL PSIKOLOGI INTERNET DAN TEKNOLOGI )

January 9, 2011

KEADAAN kognitif pada anak dibawah usia lima tahun

________________________________________________________
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
2. PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK DIBAWAH USIA LIMA TAHUN
BAB III KESIMPULAN
Daftar Pustaka

_________________________________________
BAB I PENDAHULUAN

Di era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju, banyak ilmu pengetahuan yang mengembangkan cabang dari ilmu pengetahuan, salah satunya ilmu pengetahuan Psikologi yang semakin berkembang pesat dengan mempelajari banyak hal dalam kejiwaan, psikologis dan perkembangan pada manusia. Dalam kesempatan ini penulis akan membahas perkembangan kognitif pada balita

Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Masa balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah. Pada periode usia ini pemahaman terhadap obyek telah lebih ajeg. Balita memahami bahwa obyek yang diaembunyikan masih tetap ada, dan akan mengetahui keberadaan obyek tersebut jika proses penyembunyian terlihat oleh mereka. Akan tetapi jika prose penghilangan obyek tidak terlihat, balita mengetahui benda tersebut masih ada, namun tidak mengetahui dengan tepat letak obyek tersebut. Balita akan mencari pada tempat terakhir ia melihat obyek tersebut. Oleh karena itu pada permainan sulap sederhana, balita masih kesulitan untuk membuat prediksi tempat persembunyian obyek sulap.

BAB II PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN

Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah.

A. Teori Perkembangan Kognitif menurut Konsep Vygotsky

Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam situasi sosial yang hampa. Lev Vygotsky (1896-1934) seorang psikolog berkebangsaan Rusia, mengenal poin penting tentang pikiran anak lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20.
Sezaman dengan Piaget, Vygotsky menulis di Uni Sofiet selama sepuluh tahun dari tahun 1920-1930. Namun karyanya baru dipublikasikan diduia barat pada tahun 1960an. Sejak saat itulah, tulisan-tulasannya menjadi sangat berpengaruh didunia. Vygotsky juga mengagumi Piaget , Vigotsky setuju dengan teori Piaget bahwa perkembangan kognitiv terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, akan tetapi Vygotsky tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian dan membentuk gambara realitasya sendirian, karena menurut Vygotsky suatu pengetahuan tidak hanya didapat oleh anak itu sendiri melainkan mendapat bantuan dari lingkungannya juga.
Karya vygotsky didasarkan pada pada tiga ide utama:
1. Bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan
sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui.
2. Bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual.
3. Peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Sumbangan psikologi kognitif berakar dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggaris bawahi peran penting pengetahuan alam dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Tiga, merka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh manusia dan diproses didalam sistem memori otak.

2. PERKEMBANGAN KOGNITIF

A. Perkembangan Kognitif Anak Usia 1 – 2 Tahun (12 – 24 bulan)

Sewaktu lahir, berat otak anak sekitar 27% berat otak orang dewasa. Pada usia 2 tahun, berat otak anak sudah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa (sekitar 1200 gram). Hal ini menunjukkan bahwa pada usia ini, masa perkembangan otak sangat pesat. Pertumbuhan ini memberikan implikasi terhadap kecerdasan anak.

Pada usia ini, anak mengembangkan rasa keingintahuannya melalui beberapa hal berikut ini :

1. Belajar melalui pengamatan/ mengamati.
Mulai usia 13 bulan, anak sudah mulai mengamati hal-hal di sekitarnya. Banyak “keajaiban” di sekitarnya mendorong rasa ingin tahu anak. Anak kemudian melakukan hal-hal yang sering dianggap bermain, padahal anak sedang mencari tahu apa yang akan terjadi kemudian setelah anak melakukan suatu hal sebagai pemuas rasa ingin tahunya.

2. Meniru orang tua.
Sekitar usia 17 bulan, anak sudah mulai mengembangkan kemampuan mengamati menjadi meniru. Hal yang ditirunya adalah hal-hal yang umumnya dilakukan orangtua. Pada usia 19 bulan, anak sudah banyak dapat meniru perilaku orangtua.

3. Belajar konsentrasi.
Pada usia 14 bulan, anak sudah mengarahkan daya pikirnya terhadap suatu benda. Hal ini dapat dilihat pada ketekunan anak dengan satu mainan atau satu situasi. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi tergantung pada keadaan atau daya tarik berbagai hal yang ada di sekelilingnya. Kemampuan anak untuk berkonsentrasi pada usia ini adalah sekitar 10 menit.

4. Mengenal anggota badan.
Pada usia sekitar 15 bulan, anak sudah dapat diajarkan untuk mengucapkan kata-kata. Anak-anak akan merasa sangat senang jika orangtua mengajarkan kata-kata yang bernamakan anggota tubuhnya sambil menunjukkan anggota tubuhnya.

5. Memahami bentuk, kedalaman, ruang dan waktu.
Pada tahun kedua, anak sudah memiliki kemampuan untuk memahami berbagai hal. Melalui pengamatannya, anak menemukan adanya bentuk, tinggi atau rendah benda (kedalaman) dan membedakan kesempatan berdasarkan tempat (ruang ) dan waktu. Pemahaman ini mulai tampak pada usia 18 – 24 bulan.

6. Mulai mampu berimajinasi.
Kemampuan berimajinasi atau membentuk citra abstrak berkembang mulai usia 18 bulan. Anak sudah mulai menampakkan kemampuan untuk memikirkan benda yang tidak dilihatnya.

7. Mampu berpikir antisipatif.
Kemampuan ini mulai tampak pada anak usia 21 – 23 bulan. Anak tidak sekedar mengimajinasikan benda yang tidak ada di hadapannya, lebih jauh lagi dia mulai dapat mengantisipasi dampak yang akan terjadi pada hal yang dilakukannya.

8. Memahami kalimat yang terdiri dari beberapa kata.
Pada usia 12 – 17 bulan, anak sudah dapat memahami kalimat yang terdiri atas rangkaian beberapa kata. Selain itu, anak juga sudah dapat mengembangkan komunikasi dengan menggunakan gerakan tubuh, tangisan dan mimik wajah. Pada usia 13 bulan, anak sudah mulai dapat mengucapkan kata-kata sederhana seperti “mama” atau “papa”. Pada usia 17 bulan, umumnya anak sudah dapat mengucapkan kata ganti diri dan merangkainya dengan beberapa kata sederhana dan mengutarakan pesan-pesan seperti: “ Adik mau susu.”

9. Cepat menangkap kata-kata baru.
Pada usia 18 – 23 bulan, anak mengalami perkembangan yang pesat dalam mengucapkan kata-kata. Perbendaharaan kata anak-anak pada usia ini mencapai 50 kata. Selain itu, anak sudah mulai sadar bahwa setiap benda memiliki nama sehingga hal ini mendorongnya untuk melancarkan kemampuan bahasanya dan belajar kata-kata baru lebih cepat.

B. Perkembangan Kognitif Anak Usia 2 – 3 Tahun (24 – 36 Bulan)

Kemampuan kognitif anak usia 2 – 3 tahun semakin kompleks. Perkembangan anak usia 2 – 3 tahun ditandai dengan beberapa tahap kemampuan yang dapat dicapai anak, yaitu sebagai berikut :

1. Berpikir simbolik.
Anak usia 2 tahunan memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol berupa kata-kata, gambaran mental atau aksi yang mewakili sesuatu. Salah satu bentuk lain dari berpikir simbolik adalah fantasi, sesuatu yang dapat digunakan anak ketika bermain. Mendekati usia ketiga, kemampuan anak semakin kompleks, dimana anak sudah mulai menggunakan obyek subtitusi dari benda sesungguhnya. Misalnya anak menyusun bantal- bantal sehingga menyerupai mobil dan dianggapnya sebagai mobil balap.

2. Mengelompokkan, mengurut dan menghitung.
Pada tahun ketiganya, anak sudah dapat mengelompokkan mainannya berdasarkan bentuk, misalnya membedakan kelompok mainan mobil-mobilan dengan boneka binatang. Selain mengelompokkan, anak juga mampu menyusun balok sesuai urutan besarnya dan mengetahui perbedaan antara satu dengan beberapa (kemampuan menghitung).

3. Meningkatnya kemampuan mengingat.
Kemampuan mengingat anak akan meningkat pada usia 8 bulan hingga 3 tahun. Sekitar usia 2 tahun, anak dapat mengingat kembali kejadian-kejadian menyenangkan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Mereka juga dapat memahami dan mengingat dua perintah sederhana yang disampaikan bersama-sama. Memasuki usia 2,5 hingga 3 tahun, anak mampu menyebutkan kembali kata-kata yang terdapat pada satu atau dua lagu pengantar tidur.

4. Berkembangnya pemahaman konsep.
Ketika mencapai usia 18 bulan, anak memahami waktu untuk pertama kalinya yaitu pemahaman “sebelum” dan “sesudah”. Selanjutnya pemahaman “hari ini”. Pada usia 2,5 tahun, anak mulai memahami pengertian “besok”, disusul dengan “kemarin” dan pengertian hari-hari selama seminggu di usia 3 tahun.

5. Puncak perkembangan bicara dan bahasa.
Pada usia sekitar 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1000 kata dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Pada usia ini biasanya anak mulai banyak berbicara mengenai orang-orang di sekelilingnya, terutama ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.

BAB III KESIMPULAN
Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Masa balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah.
psikologi kognitif berakar dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggaris bawahi peran penting pengetahuan alam dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Tiga, merka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh manusia dan diproses didalam sistem memori otak.
Sewaktu lahir, berat otak anak sekitar 27% berat otak orang dewasa. Pada usia 2 tahun, berat otak anak sudah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa (sekitar 1200 gram). Hal ini menunjukkan bahwa pada usia ini, masa perkembangan otak sangat pesat. Pertumbuhan ini memberikan implikasi terhadap kecerdasan anak.
Kemampuan kognitif anak usia 2 – 3 tahun semakin kompleks. Perkembangan anak usia 2 – 3 tahun ditandai dengan beberapa tahap kemampuan yang dapat dicapai anak,

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tumbuh-kembang-anak.blogspot.com/2009/03/perkembangan-kognitif-anak-balita.html

kekurangan otak tengah ( softskil psikologi internet dan teknologi )

January 9, 2011

nama : dewi sartika
npm : 15509128

kekurangan manipulasi otak tengah
Di era perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju pesat banyak ilmu – ilmu baru yang mulai di temukan dan di kembangkan saat ini. Seperti dalam hal perkembangan kemampuan otak tengah, makin banyak orang yang melakukan penelitian tentang hal tersebut. Dalam setiap perkembangan sesuatu ilmu pasti memiliki manfaat dan dampak negatif dari suatu ilmu. Pada kesempatan ini saya akan menuliskan dampak negatif dari perkembangan ilmu mengenai manipulasi otak tengah.
Walaupun perkembangan manipulasi otak tengah memiliki manfaat tapi tidak lupa juaga ilmu ini memiliki kekurangan juga seperti dalam tulisannya, Lely Setyawati Kurniawan, seorang Psikiater dari Denpasar, Bali, menyebut kondisi seperti yang dialami oleh anak-anak dengan memanipulasi otak tengah yaitu sebagai awareness, yakni suatu kondisi mental penuh kewaspadaan. Kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan kejiwaan, berupa gejala yang ringan berupa Gangguan Cemas Menyeluruh, sampai tipe berat berupa Gangguan Paranoid.
Kondisi awareness tersebut muncul setelah otak tengah anak-anak tersebut diaktivasi dengan suatu cara tertentu, seperti memperdengarkan alunan musik klasik dan instrumentalia lainnya, gerakan-gerakan tubuh, menciptakan suasana tertentu, dan lain-lain, kemudian ditambah juga dengan program neuro-linguistik (NLP) yang disisipkan demi sebuah proses aktivasi yang nantinya mengarah pada suatu keadaan extra sensory perception (ESP).
Namun perlu diketahui bahwa hingga hari ini belum ada satupun publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa aktivasi otak tengah meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade-nya menjadi jenius.
Sebaliknya penelitian beberapa ahli sudah membuktikan secara ilmiah bahwa aktivasi otak tengah bisa memberikan dampak buruk bagi fungsi organ tubuh, seperti penelitian Musa A. Haxiu & Bryan K. Yamamoto (2002) membuat suatu penelitian otak tengah pada 24 ekor musang jantan. Hasilnya aktivasi otak tengah di daerah periaquaductal gray (PAG) ternyata justru mengakibatkan otot-otot polos pernafasan mengalami relaksasi, sehingga mengganggu pernafasan hewan-hewan tersebut.
Begitu juga dengan penelitian Peter D. Larsen, Sheng Zhong, dkk. (2001) ada beberapa hal yang berubah karena aktivasi otak tengah, misalnya tekanan arteri utama (mean arterial pressure), aliran darah di ginjal (renal blood flow), aliran darah di daerah paha (femoral blood flow), persarafan daerah bawah jantung (Inferior cardiac), persarafan simpatis dan denyut jantung akan makin meningkat, sebaliknya tekanan darah justru turun, aktivitas persarafan di daerah tulang belakang juga turun. Peningkatan tekanan arteri, aliran darah ginjal dan paha tersebut bisa mencapai 328%.
Tulisan Hugo D. Critchley, Peter Taggart dkk. (2005) membuat kita lebih terperangah lagi, karena ternyata induksi lateralisasi pada aktifitasi otak tengah dapat mengakibatkan mental stres, serta berbagai stres lain yang akan memicu gangguan irama jantung dan kematian mendadak (sudden death). Penyebabnya adalah karena tidak seimbangnya dorongan simpatetik persyarafan jantung.
Dalam hal ini orang tua harus lebih teliti dalam memilih apa yang terbaik untuk anak nya termasuk untuk membiarkan anaknya ikut dalam bimbingan otak tengah atau tidak. Karena itu memiliki dampak positif maupun negatif yang sama.

Sumber: Lely Setyawati Kurniawan, seorang Psikiater, Staf Dosen di Bagian Psikiatri pada Fakultas Kedokteran Udayana, Bali, dan sebagai konsultan Forensik Psikiatri di RSUP Sanglah, Denpasar

keuntungan otak tengah ( softskill psikologi internet dan teknologi)

January 9, 2011

nama : dewi sartika
npm: 15509128

manfaat manipulasi otak tengah
Di era perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju pesat banyak ilmu – ilmu baru yang mulai di temukan dan di kembangkan saat ini. Seperti dalam hal perkembangan kemampuan otak tengah, makin banyak orang yang melakukan penelitian tentang hal tersebut. Dalam setiap perkembangan sesuatu ilmu pasti memiliki manfaat dan dampak negatif dari suatu ilmu. Pada kesempatan ini saya akan menuliskan dampak positif dari perkembangan ilmu pengetahuan mengenai manipulasi otak tengah.
Aktivasi otak tengah adalah suatu penemuan fenomenal dalam pendidikan anak. Teori penggunaan otak tengah sebenarnya telah banyak dilakukan pada banyak negara negara di Asia terutama Jepang. Jepang telah lama melakukan praktek aktivasi otak tengah pada anak-anak.Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengah akan memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak yang otak tengahnya belum di aktivasi.
Salah satu keuntungan dalam manipulasi otak tengah adalah Kemampuan prediksi (memperkirakan apa yang akan terjadi beberapa saat kemudian) adalah kemampuan yang lebih tinggi yang dapat di miliki oleh seorang anak. Seorang anak yang telah mendapat aktivasi otak tengah dapat ‘menduga’ kartu apa yang akan muncul pada saat orang tersebut masih mengocok kartunya. Begitu selesai mengocok, dan memilih sebuah kartu, orang tersebut mengambil sebuah kartu yang ternyata tepat seperti ‘dugaan’ sang anak tersebut.
Selain itu seseorang yang mempuanyai kemampuan memanipulasi otak tegah diharapkan dapat mengembangkan otak kanan dan otak kiri secara lebih maksimal sehingga mereka dapat masuk kategori jenius. Bukan hanya dalam otak kiri (IQ, intelektual) , atau otak kanan (emosional, EQ) tetapi juga dalam ‘Loving Inteligence’. Mereka adalah individu yang seimbang dan mengasihi orang lain seperti sang pencipta mengasihi dia.
Beberapa keistimewahan mengaktifkan otak tengah adalah :
1. Mengingatkan kemampuan pengingatan
2. Dapat mendorong perhatian
3. Kreatif
4. Mengimbangkan hormone
5. Kesetabilan emosi
Semua ilmu pengetahuan memiliki keistimewahan dan kekurangan yang sama, tinggal kedewasaan kita memanfaatkan dan memilih mana yang baik dan yang buruk buat diri kita sendiri tanpa mempengaruhi atau mengucilkan pendapat atau pandangan orang lain

PERKEMBANGAN MENTAL PADA ANAK ( TUGAS SOFTSKILL PSIKOLOGI INTERNET DAN TEKNOLOGI)

January 9, 2011

NAMA : DEWI SARTIKA
NPM : 15509128

PERKEMBANGAN MENTAL PADA ANAK

BAB. 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini dewasa ini banyak diminati oleh para orang tua terutama di kota-kota besar untuk memasukkan anak-anak mereka ke lembaga pendidikan pra pendidikan dasar yang lebih dikenal dengan istilah PAUD. Tujuannya dan atau alasan para orang tua antara lain adalah :
- Karena kesibukan kedua orang tuanya maka anaknya dimasukkan ke lembaga PAUD sebagai tempat penitipan anak selama ditinggal bekerja sekaligus mendapat pembelajaran pra sekolah;
- Atau karena orang tua nya sadar dan sengaja memasukan anaknya ke lembaga PAUD dengan tujuan agar anaknya memperoleh bekal yang cukup manakala memasuki masa pendidikan dasar.
Padahal pada kenyataannya PAUD diperlukan bagi anak, ruang lingkup Pendidikan Anak Usia Dini adalah : Infant (usia 0 – 1 tahun); Toddler (usia 2-3 tahun); Preschool/Kindergarten (usia 3-6 tahun) dan Early Primary School/SD Kelas Awal (usia 6-8 tahun), hal ini berkaitan dengan :
- Potensi intelektual terbentuk sejak umur 4 (empat) tahun,
- Perkembangan otak lebih banyak dipengaruhi lingkungan,
- Intervensi usia dini berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya,
- Peningkatan mutu pendidikan harus dimulai sejak anak usia dini,
- Lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan yang utama dan pertama.
Oleh karena itu hendaknya proses Pendidikan dan Pembelajaran pada Anak Usia Dini (PAUD) dilakukan dengan tujuan memberikan konsep yang bermakna bagi anak melalui pengalaman nyata.
1.2. Tujuan
Dengan disusunnya makalah yang bertemakan dan mengungkap beberapa aspek berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diharapkan dapat memberikan sedikit gambaran mengenai seberapa perlu serta implikasi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini. Selain dari itu makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas dari mata kuliah “Softskill Psikologi”.

BAB. 2.
PAUD PERLU TIDAK YA?
2.1. Esensi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah program yang diselenggarakan untuk memberikan pelayanan pendidikan dan perawatan bagi anak sedini mungkin agar memperoleh pembinasaan tumbuh kembang yang optimal dan mempunyai kesiapan masuk sekolah.
Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensiitif untuk menerima berbagai rangsangan.
Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespons stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini juga merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, emosional, agama dan moral.
Pendidikan usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahun, sikap dan keterampilan pada anak. Keberhasilan proses pendidikan pada masa dini tersebut menjadi dasar untuk proses pendidikan selanjutnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini, seperti : Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, Satuan Padu Sejenis Taman Kanak-kanak sangat tergantung pada sistem dan proses pendidikan yang dijalankan.
2.2. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini
Ada tiga hal yang dijadikan landasan PAUD, yaitu :
1. Landasan Yuridis
2. landasan Empiris
3. Landasan Keilmuan
Landasan Yuridis
Landasan hukum terkait dengan pentingnya PAUD tersirat dalam :
• Amandemen UUD pasal 28b ayat 2, yaitu : negara menjamin kelangsungan hidup, pengembangan dan perlindungan anak terhadap eksploitasi dan kekerasan.
• Keppres No. 36 tahun 1990, Konvensi Hak Anak, kewajiban negara untuk pemenuhan hak anak.
• UU No. 20/2003 tentang sistem Pendidikan Nasional
• PP No.27/1990 tentang pendidikan Prasekolah
• PP No.39/1992 mengenai Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional
Berbagai komitmen/peraturan maupun konvensi internasional yang terkait dengan hak asasi anak (beberapa telah diratifikasi).
• CRC-20 November 1989, pemenuhan hak-hak dasar anak
• United Nations Milenium Declaration- 8 Desember 2000, tentang perlunya nilai-nilai dasar yang bersifat universal yang harus ditanamkan pada anak-anak.
• The World Fit for Children – 8 Mei 2002, tentang memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak untuk berpartisipasi dalam pengambilan dan pemenuhan hak-hak dasar anak.
• Konferensi internasional di Dakkar – Senegal tahun 2000, “memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak dini usia, terutama bagi nak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung”.
Landasan Empiris
• Sensus penduduk 2003, diperkirakan jumlah anak usia dini di Indonesia adalah 26,17 juta jiwa. Namun yang belum terlayani PAUD masih terdapat sekitar 19,01 juta (72,64%).
• Laporan UNDP tentang Human Development Index (HDI) pada tahun 2002 Indonesia menempati peringkat 110 dari 173 negara dan 111 pada tahun 2004, jauh di bawah negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (59), Philipina (77), Thailand (70).
• Berdasarkan hasil studi “kemampuan membaca” siswa tingkat SD yang dilaksanakan oleh International Educational Achevement (IEA) diketahui bahwa siswa SD di Indonesia berada di urutan ke 38 dari 39 negara.
• Hasil penelitian The Third International Mathematics and Science Study Repeat tahun 1999, kemampuan siswa Indinesia di bidang IPA berada di urutan ke 32 dari 38 negara yang diteliti dan di bidang matematika berada di urutan ke 34 dari 38 negara yang diteliti.
• Berdasarkan Piramida pendidikan Depdiknas tahun 1999/2000, yaitu rendahnya kualitas calon siswa didasarkan pada suatu kenyataan bahwa selama ini perhatian kita terhadap pendidikan anak usia dini masih sangat minim.
Landasan Keilmuan
Penelitian-penelitian :
• Seorang bayi yang baru lahir memiliki kurang lebih 100 miliar sel otak. Ini menunjukkan selama 9 bulan masa kehamilan, paling tidak setiap menit dalam pertumbuhan otak diproduksi 250 ribu sel otak. Setiap sel otak saling terhubung dengan lebih dari 15 ribu simpul elektrik kimia yang sangat rumit sehingga bayi yang berusia 8 bulan pun diperkirakan memiliki biliunan sel saraf di dalam otaknya. Sel-sel saraf ini harus rutin distimulasi dan didayagunakan supaya terus berkembang jumlahnya.
• Pada usia rawan saat anak mulai banyak bergerak, yaitu usia 6 bulan, angka kecelakaan dapat berkurang sebanyak 80% bila mereka diberi rangsangan dini.
• Pada umur 3 tahun, anak-anak akan mempunyai IQ 10 sampai 20 poin lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah mendapat stimulasi.
• Pada usia 12 tahun, mereka tetap memperoleh prestasi yang baik dan pada usia 15 tahun, tingkat intelektual mereka semakin bertambah.
• Ini memberikan gambaran bahwa pendidikan sejak dini memberikan efek jangka panjang yang sangat baik. Sebaliknya, bila anak mengalami stress pada usia-usia awal pertumbuhannya akan berpengaruh juga pada perkembangan otaknya. Anak yang dibesarkan di dalam lingkungan yang minim stimulasi, berkurang kecerdasannya selama 18 bulan yang tidak mungkin tergantikan.
• Otak manusia terdiri dari 2 belahan, kiri (left hemisphere) dan kanan (right hemisphere) yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpuss callosum. Kedua belahan otak tersebut memiliki fungsi, tugas, dan respons berbeda dan harus tumbuh dalam keseimbangan. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk berpikir rasional, analitis, berurutan, linier, saintifik seperti membaca, bahasa dan berhitung. Sedangkan belahan otak kanan berfungsi untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas. Bila pelaksanaan pembelajaran di PAUD memberikan banyak pelajaran menulis, membaca, bahasa dan berhitung seperti yang cenderung terjadi dewasa ini, akan mengakibatkan fungsi imajinasi pada belahan otak kanan terabaikan. Sebaiknya dalam usaha memekarkan segenap kecerdasan anak, pembelajaran pada anak usia dini ditunjukkan pada pengembangan kedua belahan otak tersebut secara harmonis.
• Gardner menemukan bahwa otak manusia memiliki beberapa jenis kecerdasan yaitu : bahasa, logis matematis, visual-spasial, musical, kinestik, interpersonal social, intrapersonal, naturalis.
2.3. Kaidah Pembelajaran PAUD
Pembelajaran PAUD meliputi beberapa hal :
2.3.1. Wilayah Perkembangan vs Wilayah Pembelajaran yaitu
- pertumbuhan hasrat ingin tahu
- perkembangan minat
- pembentukan karakter
- perkembangan sosial
- perkembangan emosional
- perkembangan otak/kognitif
- perkembangan bahasa
- perkembangan moral,nilai, keagamaan
2.3.2. Mengembangkan Cinta dan Kesiapan Belajar
- kasih sayang, perlindungan, perawatan
- waktu yang diberikan : jumlah dan mutu
- lingkungan belajar yang positif
- sikap/perlakukan sebagai belajar nilai
- belajar moral pada usia dini
2.3.3. Bagaimana Anak Belajar
- rasa sehat, istirahat, makan
- dunia meniru pada anak
- faktor latihan dan rutinitas
- kebutuhan bertanya dan jawaban
- pikiran anak =/= orang dewasa
- pengalaman langsung —-> hal kritis
- trial and error
- bermain urusan pokok anak
2.3.4. Stratregi Pembelajaran :Metode Ceritera, Sebuah Implikasi
- dunia lisan sebagai kekuatan pemahaman
- berceritera sebagai metode utama
- satuan pelajaran berwujud ceritera; bukan perangkat tujuan
- pengembangan konsep dalam rongga seritera
- bahasa grafis
- dunia permainan.
2.4. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam
Pendidikan anak usia dini dalam Islam merupakan hal yang sangat penting. Ini disebabkan rentang usia dini merupakan fase emas bagi pertumbuhan jiwa dan kepribadian anak. Karena itu, pendidikan pada fase ini hendaknya benar-benar menerapkan metode yang sesuai konsep pendidikan Islam berdasarkan teladan Raulullah Saw. Beberapa kiat dalam menerapkan pendidikan anak usia dini dalam Islam.
Menjadi Sahabat Sekaligus Teladan Anak
Rasulullah terkenal sebagai penyayang anak dan kerap menemani anak-anak bermain tanpa merasa canggung. Dalam riwayat Sa’ad bin Abi Waqqas bercerita bahwa dirinya pernah masuk kerumah Rasulullah saat Hasan tengah bermain di atas perut sang kakek.
Sa’at lantas bertanya, apakah Rasulullah mencintai mereka. Dijawab oleh Rasulullah,”Bagaimana mungkin aku tidak mencintai dua kuntum bunga raihanah ini.
Disela-sela aktivitasnya menemani anak-anak. Rasulullah selalu menyelipkan pesan-pesan keteladanan. Sebagai bagian dari pendidikan anak usia dini dalam Islam, orang tuapun memiliki peran penting terkait menanamlan keteladanan terhadap anak. Apalagi di zaman sekarang televisi sebagai media hiburan tak dapat diharapkan menjadi contoh yang baik bagi pembentukan akhlak anak-anak muslim.
Mengembirakan Hati Anak
Suatu saat setelah penaklukan Mekkah, Rasulullah meminta Bilalmengumandangkan azan di atas Ka’bah. Saat Bilal melaksanakan tugasnya, beberapa musyrikin Quraisy mengolok-oloknya dengan menirukan suara Bilal.
Salah satu di antara mereka bernama Abu Mahdzurah, seorang anak bersuara merdu. Mendengat olok-olok Abu Mahdzurah yang waktu itu berusia 16 tahun, Rasulullah meminta agar dia dibawa menghadap beliau.
Abu Mahdzurah menyangka Rasulullah akan membunuhnya. Namun apa yang diperbuat Rasulullah?Beliau justru mengusap-usap ubun-ubun remaja itu dengan penuh kelembutan . Kontan hati Abu Madzurah pun luluh, terasa tersiram oleh iman dan keyakinan Rasulullah lantas mengajarinya beradzan untuk penduduk Mekkah.
Satu hikmah yang diptik dari kisah di atas. Bahwa hati yang gembira akan lebih mudah menerima perintah, larangan, peringatan, atau bimbingan apa pun. Karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk selalu membuat anak bergembira setiap saat. Tindakan kenakalan tidak sepatutnya dibalas dengan hadirkan atau kemarahan.
Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak
Sebagai upaya menumbuhkan rasa percaya diri anak, Rasulullahmenggunakan beberapa cara berikut :
- Saat sedang berpuasa Rasulullah mengajak anak-anak bermain sehingga siang yang panjang terasa cepat. Anak-anak akan menyongsong waktu berbuka dengan gembira. Hal ini juga membuat anak memiliki kepercayaan diri sanggup berpuasa sehari penuh.
- Sering membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, resepsi atau bersilaturahmi ke rumah saudara sebagai upaya menumbuhkan kepercayaan diri sosialnya.
- Mengajari Al Qur’an dan As Sunnah serta mencerterakan sirah nabi untuk meningkatkan kepercayaan diri ilmiahnya.
- Menanamkan kebiasaan berjual-beli untuk meningkatkan kepercayaan diri anak terkait ekonomi dan bisnis. Disamping itu, sejak dini anak terlatih mandiri secara ekonomi.
Memotivasi Anak Berbuat Baik
Anak-anak, terutama pada fase usia dini, cenderung lebih mudah tersentuh oleh motivasi ketimbang ancaman. Maka, hendaknya orang tua tidak mengandalkan ancaman untuk mendidik sang buah hati. Ketimbang banyak bicara soal murka Allah, siksa dan neraka-Nya mengapa tdak memotivasinya bahwa kebaikan akan mendapat balasan surga dengan segala kenikmatannya?.
2.5. Pendidikan Anak Usia Dini Yang Pluralis
Seorang teman guru pernah bercerita perihal anak balitanya yang berusia 4 tahun yang dimasukan ke lembaga pendidikan anak usia diniyang berlabel play group beridentitas eksklusif. Namun kemudian ada keterkejutan teman saya manakala baru 2 bulan anak balitanya disekolahkan di play group yang eksklusif itu muncul perilaku aneh dari sang anak.
Dari semula seorang balita yang ceria menjadi pendiam. Dari balita yang awalnya gemar menonton film kartun melalui televisi menjadi sosok anak yang menolak menonton tayangan televisi apapun acaranya. Bahkan tak jarang sang anak balita menasihati sang ibu dan sang ayah tentang petuah moral yang mungkin sang anak tidak mengerti maknanya. Usut punya usut manakala sang ibu menyelidiki faktor perubahan karakter anak, ternyata dalam metode pembelajarandi play group yang berbiaya mahal itu ditekankan materi pembelajaran yang serba “melarang”atau “mengekang” kebebasan berpikir dan berindak anak.
Di dalam ruang kelas pembelajaran dan ruang bermain anak, para guru (pengasuh ) banyak memberikan materi pembelajaran dalam metode yang doktriner. Anak didik yang seharusnya baru dalam tahap pertumbuhan kejiwaan dan spirit bermain diajarkan tafsir moral keagamaan yang sangat literer bahwa apa yang dilakukan para anak didik harus sesuai tafsir ajaran agama yang literer atau tekstuali. Dengan demikian, diluar apa yagn diajarkan dianggap “haram” dan tidak bermoral. Menonton TV dianggap denkat dengan perbuatan “tercela”. Anak-anak bermain harus dipisah menjadi dua kelompok bermain, antara perempuan dan laki-laki. Anak-anak tidak boleh menggunakan perkakas bermain yang berasal dari negara lain yang dianggap sekuler.
Belajar dari kasus aktual yang kini marak di balik model dan menjamurnya pendidikan anak usia dini yang eksklusif tersebut, akankah generasi muda bangsa ini di masa depan akan penuh dengan pengotak-otakan atas dasar keyakinan “ideologis” tertentu? Di dunia pendidikan termasuk yang usia prasekolah-telah dikembangkan kultur dan ajaran yang sifatnya antitoleransi dan mengedapankan tafsir moralitas yang absurd?
Pendidikan anak usia dini dan jejnjang pendidikan dasar saat ini terbelah menjadi 2 realitas. Pertama, Pendidikan anak usia dini dan jenjang pendidikan dasar menjadi “proyek” rekayasa sosial untuk melahirkan komunitas basis ideologi politik tertentu. Kelompok-kelompok “eksklusif” sosial tertentu bahkan menjadikan level pendidikan anak usia dini dan jenjang pendidikan dasar sebagai sarana kaderisasi sejak dini. Materi pembelajaran yang dikembangkan dan kurikulum mengabaikan kesadaran sosial sebagai nation (bangsa). Realitas yang kedua, jenjang pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar menjadi sarat mendapatkan “nilai lebih” (laba) ekonomi atau bahasa harfiahnya menjadi ladang bisnis dalam atmosfer komersialisasi pendidikan. Tidak mengherankan biaya pendidikan anak usia dini dan jejnajgn pendidikan dasar semakin mahal, tidak mungkin terjangkau oleh kocek keluarga miskin.
Pada hakikatnya jenjang pendidikan anak usia dini diperlukan untuk mengembangkan kepribadian anak dan mengangkat motivasi kolektivitas sosial anak didik. Pendidikan anak usia dini menjadi media bermain, karena itu anak menjadi berkembang kemampuan kognisi-afeksi dan psikomotoriknya.
Pendidikan anak usia dini seharusnya menjadi media pendidikan yang “liberal” dalam makna membiarkan anak didik bermain dan berpikir sesuai kebutuhan fisiologis dan psikisnya. Sehingga anak bisa merasakan proses pendewasaan diri sebagai calon “manusia” yang humanis dan toleran.
Memang tidak bisa disalahkan penyelenggara pendidikan anak usia dini mengembangkan ideologi tertentu sebagai sarana kaderisasi politik sejak dini. Masalahnya, jangan sampai program kurikulum pendidikan anak usia dini menjadi “penjara” yang membatasi kebebasan kreatif-berpikir anak.
Anak usia balita tidak etis apabila dikenalkan dengan tafsir ajaran moral yang puritan dan antitoleransi, sehinggan lambat laun ke depannya akan mendidik mentalitas antisosial dan anti kebinekaan. Anak balita seharusnya diajarkan tentang bagaimana mengembangkan sikap humanis dan menghargai kebebasan asasi anak yang lain.
Imlikasi pendidikan anak usia dini yang eksklusif-puritan akan menjadikan anak bangsa generasi muda kita sebagai generasi sosial yang selalu berpikir (bersikap) “oposisi biner” dalam aktivitas sosial yang dilakoninya. Memandang diri dan komunitasnya sebagai sentra kebenaran dan kelompok (komunitas) lain sebagai sesuatu yang salah.
Untuk itulah saat ini perlu dikembangkan model-kurikulum pendidikan anak usia dini yang “idealis” namun pluralis. Sebuah kurikulum pendidikan anak usia dini yang menghargai nilai kemanusiaan dan perbedaan keyakinan sosial antar kelompok.
Pendidikan anak usia dini yang berwatak pluralis dan humanis bisa dikembangkan oleh ormas keagamaan lintas agama/etnik sebagai media “pengembangan” nation Building bagi anak-anak balita, bisa pula dipelopori oleh kalangan ornop penggiat pendidikan alternatif.
Ikhtisar pendidikan anak usia dini yang pluralis, pertama, kurikulum pendidikan harus jauh dari semangat puritanisme dan stereotype sosial berbasis kesukuan-keagamaan dan harus mengedepankan materi pembelajaran yang meneguhkan dimensi kemanusiaan.
Kedua, model kurikulum pembelajaran anak usia dini mengikuti penalaran psikologi pendidikan yang umum (wajar). Tidak ada skenario menjadikan anak balita sebagai proyek percontohan “social engineering”. Ketiga, pendidikan anak usia dini pada hakikatnya adalah media belajar melalui logika bermain anak, karena itu tidak boleh ada pengekangan kebebasan berpikir dan kreatif yang positif.
BAB. 3. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pendidikan anak usia dini (PAUD) jika diselenggarakan dengan berpedoman pada ketentuan yang telah digariskan oleh otoritas pendidikan nasional serta kaidah-kaidah yang berlaku universal bagi tumbuh kembang dan kebutuhan dasar anak di usianya, akan membawa dampak yang baik.
Pendidikan anak usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak. Yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral.
3.2. Saran
Pendidikan anak usia dini perlu dikembangkan,didukung dan mendapat pengawasan dari pemerintah secara obyektif . Pendidikan anak usia dini jangan bersifat “eksklusfi” dan menjadi ladang bisnis kelompok-kelompok kepentingan. Melainkan harus diselenggarakan secara massal dan terstruktur dengan baik dan berbiaya murah sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat secara luas.
Penulis mengharapkan kritik serta saran-saran perbaikan manakala penulis menyadari bahwasanya tulisan ini masih terdapat kekurangan-kekurangan, atas perhatian dan saran perbaikan diucapkan terima kasih.

PERKEMBANGAN anak tugas (softskill psikologi internet dan teknologi)

January 9, 2011

nama :dewi sartika
kelas : 2pa01
npm: 15509128

PERKEMBANGAN Anak

Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan karangan ilmiah ini. Tema yang saya pilih adalah “Perkembangan Motorik Anak ”.

Adapun tujuan saya menulis karangan ini adalah untuk mengetahui perkembangan berbicara pada anak. Saya harap tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah informasi.

Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak – pihak yang telah membantu menyusun makalah ini, juga kepada teman – teman yang telah memberi semangat pada saya. Walaupun sebenarnya selama dalam pembuatan makalah ini saya mengalami banyak hambatan.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan karya tulis ini. Akhir kata saya ucapkan semoga karangan ini dapat bermanfaat.

Latar belakang

Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas 1 tahun atau lebih populer dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun. Masa balita merupakan usia penting dalam tumbuh kembang anak secara fisik. Pada usia tersebut, petumbuhan seorang anak sangatlah pesat sehingga memerlukan asupan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Balita dapat dikategorikan dalam tingkat sensorimotor berdasarkan pendekatan teori Piaget. Pada usia dua belas hingga delapan belas bulan balita menunjukkan keingintahuan yang tinggi dan terus-menerus melakukan berbagai percobaan untuk mengetahui hasil yang ditimbulkan pada masing-masing cara yang ia lakukan. Mereka secara aktif mengeksplorasi lingkungan mereka untuk mencari fakta-fakta baru tentang benda-benda disekitar mereka. Balita pada usia ini juga mencoba berbagai aktifitas baru dan menggunakan metode trial and error dalam memcahkan permasalahan yang mereka hadapi.

Pada usia delapan belas bulan hingga dua puluh empat bulan, balita telah mampu mempresentasikan kejadian-kejadian. Mereka tidak lagi tergantung pada metode trial and error untuk menyelesaikan permasalahan. pemikiran yang simbolis memungkinkan balita untuk mulai berpikir tentang cara serta apa yang akan akan terjadi bila mereka melakukan suatu hal. balita telah dapat menggunakan simbol, gesture dan kata-kata.

Pada usia 1 sampai 4 tahun periode ini merupakan kelanjutan dari masa bayi yang ditandai dengan terjadinya perkembangan fisik, motorik dan kognitif (perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku), psikosial serta diikuti oleh perubahan-perubahan yang lain.

Terjadi perubahan yang cukup drastis dari kemampuan psikomotor balita yang mulai terampil dalam pergerakannya (lokomotion). Mulai melatih kemampuan motorik kasar misalnya berlari, memanjat, melompat, berguling, berjinjit, menggenggam, melempar yang berguna untuk mengelola keseimbangan tubuh dan mempertahankan rentang atensi.

Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih seperti meronce, menulis, mengambar, menggunakan gerakan pincer yaitu memegang benda dengan hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari seperti memegang alat tulis atau mencubit serta memegang sendok dan menyuapkan makanan kemulutnya, mengikat tali sepatu karena hal tersebut membuat saya tergugah untuk menyelidiki tentang perkembangan motorik anak.

Pembahasan

Perkembangan motorik pada usia 1 sampau 4 tahun menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak – anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus ketrampilan motorik, anak-anak terus melakukan berbagai aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu, anak-anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang, dll.

Perkembangan Motorik Kasar dan Perkembangan Motorik Halus

Perkembangan Motorik Kasar
Tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh, seperti berlari, berjinjit, melompat, bergantung, melempar dan menangkap,serta menjaga keseimbangan. Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar. Pada anak usia 4 tahun, anak sangat menyenangi kegiatan fisik yang mengandung bahaya, seperti melompat dari tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. Pada usia 5 atau 6 tahun keinginan untuk melakukan kegiatan berbahaya bertambah. Anak pada masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau kegiatan lainnya yang mengandung bahaya.

Perkembangan Gerakan Motorik Halus
Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar.

Beberapa perkembangan motorik (kasar maupun halus) selama periode ini, antara lain :
a). Anak Usia 5 Tahun
- Mampu melompat dan menari
- Menggambarkan orang yang terdiri dari kepala, lengan dan badan
- Dapat menghitung jari – jarinya
- Mendengar dan mengulang hal – hal penting dan mampu bercerita
- Mempunyai minat terhadap kata-kata baru beserta artinya
- Memprotes bila dilarang apa yang menjadi keinginannya
- Mampu membedakan besar dan kecil

b). Anak Usia 6 Tahun
- Ketangkasan meningkat
- Melompat tali
- Bermain sepeda
- Mengetahui kanan dan kiri
- Mungkin bertindak menentang dan tidak sopan
- Mampu menguraikan objek-objek dengan gambar

c). Anak Usia 7 Tahun
- Mulai membaca dengan lancar
- Cemas terhadap kegagalan
- Peningkatan minat pada bidang spiritual
- Kadang Malu atau sedih

d). Anak Usia 8 – 9 Tahun
- Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
- Mampu menggunakan peralatan rumah tangga
- Ketrampilan lebih individual
- Ingin terlibat dalam sesuatu
- Menyukai kelompok dan mode
- Mencari teman secara aktif.

e). Anak Usia 10 – 12 Tahun
- Perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh yang berhubungan dengan pubertas mulai tampak
- Mampu melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci, menjemur pakaian sendiri , dll.
- Adanya keinginan anak unuk menyenangkan dan membantu orang lain
- Mulai tertarik dengan lawan jenis.

Kesimpulan

Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih seperti meronce, menulis, menggambar, menggunakan gerakan pincer, Masa balita merupakan usia penting dalam tumbuh kembang anak secara fisik. Pada usia tersebut, petumbuhan seorang anak sangatlah pesat sehingga memerlukan asupan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhannya. Anak-anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus ketrampilan motorik, anak-anak terus melakukan berbagai aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan.

Daftar Pustaka

Papalia E Diane, Olds Wendkos Sally, & Feldman Duskin Ruth. Human Development. New York: Higher Educatoin, 2009


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.